Minggu, 17 April 2016

Sejarah PT Philips

Koninklijke Philips Electronics N.V. (Royal Dutch Philips Electronics Ltd.), biasa dikenal sebagai Philips, ialah salah satu produsen elektronik konsumen terbesar di dunia. Pada 2004, penjualannya sekitar € 30,3 juta dan mereka mempekerjakan 161.586 orang di lebih dari 60 negara. Philips diorganisasi dalam sejumlah divisi: Philips Consumer Electronics, Philips Semiconductors, Philips Lighting, Philips Medical Systems dan Philips Domestic Appliances and Personal Care. Perusahaan ini didirikan pada 1891 oleh 2 bersaudara Gerard dan Anton Philips (1874-1951) di Eindhoven, Belanda. Produk pertamanya ialah bola lampu 'dan alat elektronik lainnya'. Pabrik pertamanya kini menjadi museum. Pada 1920-an, perusahaan ini mulai memproduksi produk lain, dan pada 1939 pisau cukur listrik pertamanya, Philishave, diperkenalkan. Philips memasarkan alat cukurnya di AS dengan nama Norelco. Philips memperkenalkan tape compact audio cassette, yang dengan ramai sukses, melalui percobaan mereka mengatur standar untuk VCR, V2000, gagal di muka persaingan dari Betamax dan khususnya standar VHS.

Pada 9 Mei 1940, direktur Philips diberitahu mengenai penyerbuan Jerman ke Belanda pada 10 Mei. Mereka memutuskan meninggalkan negerinya dan lari ke Amerika Serikat. Mereka menerima banyak modal perusahaan dengannya. Beroperasi dari AS, mereka mengurus untuk menjalankan perusahaan sepanjang perang. Di saat yang sama, perusahaan itu sendiri pindah ke Antillen Belanda untuk menjaganya dari tangan Jerman. Setelah perang kembali ke Belanda, dengan markasnya di Eindhoven (dan pada 1997 keputusan dibuat untuk pindah ke Amsterdam – perpindahan ini selesai pada 2001). Banyak fasilitas penelitian rahasia dikunci dan berhasil disembunyikan dari penyerang, yang memungkinkan perusahaan berlari cepat lagi setelah perang. Juga dipercaya bahwa Philips -sebelum dan selama perang- memasok banyak peralatan listrik kepada angkatan pendudukan Jerman, yang membuat beberapa orang berpikir bahwa perusahaan itu berkolaborasi dengan Nazi, seperti banyak perusahaan lain saat itu.

Bagaimanapun, tiada fakta yang mendukung bahwa Philips sendiri atau manajemennya pernah setuju dengan Nazi atau pahamnya. Secara jelas, ada sedikit Philips sudah bisa berbuat mencegah Jerman dari penyalahgunaan fasilitas produksinya dan memaksa pekerjanya melakukan kerja paksa selama pendudukan. Fasilitas produksi di Eindhoven merupakan satu-satunya sasaran Belanda yang dengan sengaja dibom angkatan sekutu selama perang.

PT. Philips menerapkan strategi distribusi ekslusif dan strategi distribusi intensif. Keuntungan strategi esklusif antara lain loyalitas perantara tinggi, meningkatkan citra produk dan tingkat pengendalian tinggi atas harga dan jasa yang diberikan perantara. Sedangkan kerugiannya antara lain: volume penjualan rendah, opportunity cost produsen disuatu daerah besar karena ketergantungannya pada satu perantara. Philips secara tidak langsung juga menjalankan distribusi intensif melalui channel trade retail yang memasok barang ke toko dan terkadang ke supplier. Keuntungannya adalah produk perusahaan tersedia luas di pasar. Resikonya adalah item yang dijual harus murah harganya dan perputarannya cepat, sulit mengendalikan outlet yang banyak dan tersebar luas, serta komitmen retailer untuk melakukan promosi produk rendah.


Di Indonesia, Philips telah hadir sejak 1941. Dengan pengalamannya, Philips menjadi perusahaan perlampuan terkemuka di dunia. Brand Philips merupakan salah satu brand yang sangat terkenal di mata masyarakat dunia. Philips terkenal sebagai produsen lampu berkualitas. Tanggapan baik dari masyarakat harus bisa diimbangi oleh Philips untuk tetap menghadirkan lampu-lampu berkualitas. Persaingan pasar PT Philips tidak hanya terbatas di Indonesia saja. Produksi lampu yang mereka hasilkan juga diekspor ke berbagai negara untuk memenuhi permintaan konsumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar