Sejarah
PT Philips
Koninklijke Philips Electronics N.V. (Royal
Dutch Philips Electronics Ltd.), biasa dikenal sebagai Philips, ialah salah
satu produsen elektronik konsumen terbesar di dunia. Pada 2004, penjualannya
sekitar € 30,3 juta dan mereka mempekerjakan 161.586 orang di lebih dari 60
negara. Philips diorganisasi dalam sejumlah divisi: Philips Consumer
Electronics, Philips Semiconductors, Philips Lighting, Philips Medical Systems
dan Philips Domestic Appliances and Personal Care. Perusahaan ini didirikan
pada 1891 oleh 2 bersaudara Gerard dan Anton Philips (1874-1951) di Eindhoven,
Belanda. Produk pertamanya ialah bola lampu 'dan alat elektronik lainnya'.
Pabrik pertamanya kini menjadi museum. Pada 1920-an, perusahaan ini mulai
memproduksi produk lain, dan pada 1939 pisau cukur listrik pertamanya,
Philishave, diperkenalkan. Philips memasarkan alat cukurnya di AS dengan nama
Norelco. Philips memperkenalkan tape compact audio cassette, yang dengan ramai
sukses, melalui percobaan mereka mengatur standar untuk VCR, V2000, gagal di
muka persaingan dari Betamax dan khususnya standar VHS.
Pada 9 Mei 1940, direktur Philips
diberitahu mengenai penyerbuan Jerman ke Belanda pada 10 Mei. Mereka memutuskan
meninggalkan negerinya dan lari ke Amerika Serikat. Mereka menerima banyak
modal perusahaan dengannya. Beroperasi dari AS, mereka mengurus untuk
menjalankan perusahaan sepanjang perang. Di saat yang sama, perusahaan itu
sendiri pindah ke Antillen Belanda untuk menjaganya dari tangan Jerman. Setelah
perang kembali ke Belanda, dengan markasnya di Eindhoven (dan pada 1997
keputusan dibuat untuk pindah ke Amsterdam – perpindahan ini selesai pada
2001). Banyak fasilitas penelitian rahasia dikunci dan berhasil disembunyikan
dari penyerang, yang memungkinkan perusahaan berlari cepat lagi setelah perang.
Juga dipercaya bahwa Philips -sebelum dan selama perang- memasok banyak
peralatan listrik kepada angkatan pendudukan Jerman, yang membuat beberapa
orang berpikir bahwa perusahaan itu berkolaborasi dengan Nazi, seperti banyak
perusahaan lain saat itu.
Bagaimanapun, tiada fakta yang mendukung
bahwa Philips sendiri atau manajemennya pernah setuju dengan Nazi atau
pahamnya. Secara jelas, ada sedikit Philips sudah bisa berbuat mencegah Jerman
dari penyalahgunaan fasilitas produksinya dan memaksa pekerjanya melakukan
kerja paksa selama pendudukan. Fasilitas produksi di Eindhoven merupakan
satu-satunya sasaran Belanda yang dengan sengaja dibom angkatan sekutu selama
perang.
PT. Philips menerapkan strategi distribusi
ekslusif dan strategi distribusi intensif. Keuntungan strategi esklusif antara
lain loyalitas perantara tinggi, meningkatkan citra produk dan tingkat
pengendalian tinggi atas harga dan jasa yang diberikan perantara. Sedangkan
kerugiannya antara lain: volume penjualan rendah, opportunity cost produsen
disuatu daerah besar karena ketergantungannya pada satu perantara. Philips
secara tidak langsung juga menjalankan distribusi intensif melalui channel
trade retail yang memasok barang ke toko dan terkadang ke supplier. Keuntungannya
adalah produk perusahaan tersedia luas di pasar. Resikonya adalah item yang
dijual harus murah harganya dan perputarannya cepat, sulit mengendalikan outlet
yang banyak dan tersebar luas, serta komitmen retailer untuk melakukan promosi
produk rendah.
Di Indonesia, Philips telah hadir sejak
1941. Dengan pengalamannya, Philips menjadi perusahaan perlampuan terkemuka di
dunia. Brand Philips merupakan salah satu brand yang sangat terkenal di mata
masyarakat dunia. Philips terkenal sebagai produsen lampu berkualitas.
Tanggapan baik dari masyarakat harus bisa diimbangi oleh Philips untuk tetap
menghadirkan lampu-lampu berkualitas. Persaingan pasar PT Philips tidak hanya
terbatas di Indonesia saja. Produksi lampu yang mereka hasilkan juga diekspor
ke berbagai negara untuk memenuhi permintaan konsumen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar